Waduh dah lama nich ga makan daging sapi, klo ke pasar wuih lumayan panas-panasan di jalan 30 menit (maklum baru mo diaspal). Makanya bersyukurlah yang tinggal di Kota, jalannya dah bagus. Suara pim-pim 3x khas paman sayur yang memanggil ibu2 buat belanja. Kulihat ke depan ternyata bukan paman sayur, tapi paman itu juga jual sesuatu. Apa ya? Penasaran ahhh…Uhui daging payau katanya, nama populernya ya rusa. Belum pernah masak ini, tapi kok teksturnya seperti daging sapi meski lebih lembut. Binatang ini termasuk langka klo di Jawa, tapi di sini masih banyak katanya ada di hutan-hutan sekitar kebun sawit ini. Okelah kucoba masak, menu hari ini adalah “Deer Barbeque”

Common Bu’…

Bahan-bahan:

  1. Daging rusa ½ Kg
  2. Daun bawang 3 batang
  3. Tomat 2 biji
  4. Saos tomat/saos cabe Secukupnya
  5. Tepung Maizena 2 sdt
  6. Kecap Manis secukupnya
  7. Kecap Asin secukupnya

Bumbu yang dihaluskan:

  1. Merica 1 sdm
  2. Bawang Putih 7 siung
  3. Bawang Merah 5 siung
  4. Bawang bombay 2 siung
  5. Jahe sebesar ibu jari
  6. Garam secukupnya
  7. Gula secukupnya

Cara Memasak :

  1. Bagi dua bumbu yang dihaluskan
  2. Bumbu bagian pertama dipergunakan untuk merendam daging rusa dan bumbu yang kedua untuk membuat saus.
  3. Sekarang ambil bumbu pertama yang telah kita haluskan, campur dengan air secukupnya gunakan untuk merendam daging yang telah diiris pipih dan diamkan selama 30 menit.
  4. Setelah bumbu meresap tambahkan kecap manis dan kecap asin secukupnya, kira-kira 1 sdm.
  5. Panggang dengan api kecil di atas Teflon yang telah diolesi dengan margarine sampai daging terasa empuk ketika ditusuk dengan garpu.sambil menunggu daging empuk kita membuat sausnya.

Cara membuat Saus:

  1. Ambil bumbu bagian kedua yang telah kita haluskan tadi, tumis sampai mengeluarkan bau harum dan menguning warnanya.
  2. Masukkan bawang Bombay, tomat dan daun bawang yang telah diiris tipis tambahkan kecap asin dan kecap manis (jangan dibalik urutannya).
  3. Tambahkan air secukupnya (kira-kira 1 gelas es teh ukuran 200ml) tambahkan saus tomat dan tepung maizena aduh sampai mengental, jadi dech….

Untuk penyajian siramkan saus ke daging yang telah di panggang. Oh ya, karena takut rusa dilindungi he…he…he…ganti saja dengan daging sapi.

Resep modifikasi tempe

Emmmnnn ... tempe lagi tempe lagi. Paman sayur kami menyebutnya, sayurnya itu2 aja. Bayem, kangkung, kacang panjang, etc. Tapi paman sayur ibarat dewa air di tengah gurun sahara he3x. Semua orang di pedalaman ini yang butuh makan langsung menyerbu dan dalam waktu sekejab langsung belanjaan disikat, huih serem:) Untungnya paman selalu senyum, jadi ga BeTe meski kita kehabisan stock. Nah untuk menyiasati semua ini makanya masakan kumodifikasi. Let's go masak yuk yak yuk...


Bahan-bahan:
1. Tempe (1 lonjong ukuran sedang dihaluskan)
2. Kentang (1 biji diparut)
3. Telur (2 biji)
4. Bayam (1 ikat dipotong halus)
5. Daun bawang (1 ikat dipotong halus)
6. Keju batangan (dipotong dadu sesuai selera)

Bumbu dihaluskan:
1. Cabe merah keriting (5 biji)
2. Cabe rawit merah (5 biji)
3. Bawang putih (3 siung)
4. Bawang merah (5 siung)
5. Garam (secukupnya)
6. Gula (secukupnya)

Cara membuat:
1. Campur bumbu yang telah dihaluskan dengan semua bahan kecuali keju
2. Bungkus adonan dengan daun pisang dan beri beberapa potong keju ditengahnya
3. Kukus 15 menit, diamkan sampai dingin
4. Lalu goreng


Perjalanan Membelah Pedalaman Borneo

Berangkat dari Semarang setelah semalaman menginap di Rumah Pakdhe suamiku yang lebih mirip rumah jaman Belanda. Maklum mantan pejabat di lingkungan kereta api. Bangun pagi-pagi dan tepat pukul 09.00 sudah sampai di Bandara Ahmad Yani di kota Bandeng Presto itu. Alamak! ternyata jam karetnya nggak cuma kereta atau bus, pesawat pun punya jam karet di Republik ini. Delay 2 jam tidak tanggung-tanggung, dari jam 10 sampai jam 13-an.

Terbang menggunakan pesawat jenis Fokker yang terbang rendah, Deg-degan sich tapi menyenangkan bisa lihat kapal dan laut yang biru. Lucunya, suamiku kelihatan takut setengah mati meskipun dia sudah berkali-kali naik pesawat hik...hik...hik. Sampai di kota Pangkalan Bun, wah lumayan juga kotanya. Mungkin kantor suami disini. Ngga beda jauh lah sama di Jawa. Tapi Oh No...ternyata masih 3 jam lagi menyusuri jalanan yang jauh dari bagus. Jalur dari Pangkalan Bun ke Lamandau. Capek ada sedikit takut juga karena jalannya sepi bukan main. Mobil Ford Ranger yang menjemput kami dikemudikan Mas Iwan orang Jawa juga ternyata. Ada juga Pak Indra seorang ahli GIS (peta) dan Pak Chandra anak buah suamiku di Humas.

Di bak belakang terisi penuh muatan mulai spring bed, rak piring, dan sembako karena konon kabarnya di Lamandau harganya lebih mahal beberapa ribu dibanding Pangkalan Bun. Ya Allah Gustiiii, jalannya kok jelek sekaliiii. Sudah merdeka 60 tahun lebih kok masih gini. Ya memang sich lagi diperbaiki tapi kenapa baru sekarang? jauh banget perbedaannya jalan-jalan di Jawa, Bali, Sumatra. Padahal di Bogor aku pernah lihat ada warga menanam pisang dan melepas lele di jalanan yang berlubang dan berlumpur. Wah kalau disini bisa-bisa jadi peternakan lele donk...

Wah nggak terasa gelap mulai membayangi bumi. Eh udah gelap, hujan lagi. Petirnya bok...benar-benar seperti menyentuh tanah. Jadi ingat legenda Ki Ageng Selo dari Mataram yang bisa megang petir. Ya mungkin setelah Ki Ageng Selo meninggal mereka demo semaunya nyambar-nyambar hik...hik...hik...setelah melewati hujan yang cukup lebat dan jalanan yang licin bukan main. Sampailah kami di Perkebunan Kelapa Sawit tempat suamiku bekerja. Rasa capek, bete, dan ngantukkk...langsung dech bobok.